Pagi itu, angka pada jam dinding menunjukan pukul 05.00 WIB. Udara masih terasa menusuk tulang, adzan shubuh pun telah memecah sunyi. Sayangnya, lantaran kelelahan saya tidak terbangun karena udara yang menusuk ataupun lantunan indah suara adzan. Saya terbangun karena suara nyaring di dekat telinga saya. Ya, suara itu berasal dari handphone saya. Tapi, ini bukan suara alarm melainkan suara panggilan telepon. Awalnya bingung, siapa yang menelpon saya sepagi ini. Saat kupandangi layar handphone tertera nama salah satu kakak saya.
“Ca, udah bangun?”
“Baru aiman, kenapa?”
“Mamah mau kesana ya, ikut tidur sebentar,”
“Maksudnya gimana?”
“Ini ngomong aja sama mamah,”
“Ca, mamah mau ke kosan sekarang ikut tidur sebentar. Ini di
Advent. Papih masuk HCU (High Care Unit)””
“Astagfirullah, papihnya gimana aja mah”
“engga apa-apa”
Tak lama, mamah datang diantar oleh kakakku yang paling
besar. Saya kaget dan bingung. Lalu mamah menjelaskan, bahwa semalam papih
menggigil hebat, tapi papih masih enggan pergi ke rumah sakit.

